Remaja
Remaja yang suka mendebat dan membantah bukan berarti remaja yang bermasalah. Mereka justru sedang belajar konsekuensi dan tanggung jawab atas setiap perilaku dan perbuatannya. Memasuki usia remaja merupakan saat transisi anak menuju masa dewasa, dimana anak tidak hanya mengalami perubahan fisik tubuh tetapi juga perubahan cara berpikirnya. Sering terdengar anak yang biasanya penurut, tiba-tiba berubah menjadi lebih ceriwis dan menjawab seenaknya saat ditanya orang tua. Mereka mendadak punya jawaban mengesalkan atas setiap pernyataan maupun pertanyaan orang tua. Dalam artikelnya “Arguing with Your Adolescence”, Carl Pickhardt, PhD, seorang psikolog yang mendalami dunia remaja mengatakan bahwa masa remaja merupakan masa disputatious age, masa dimana anak akan mendebat topik apapun, baik ringan maupun topik berat. Misalkan sebelum menginjak remaja, anak langsung menuju meja makan begitu mendengar bundanya menyuruhnya makan. Begitu sudah remaja, ada saja alasan yang diberikannya hingga tidak bergegas menuju meja makan. “Memang aku harus makan sekarang?”, “Kalau aku lapar, pasti aku makan kok”, dan segudang alasan lainnya yang akhirnya membuat orang tua dan anak remaja bertengkar hebat. Faktor terbesar yang mempengaruhi perilaku remaja adalah karena otak remaja sedang mengalami fase pemangkasan jaringan otak yang tidak terpakai, dan menguatkan jaringan yang tidak terpangkas. Hanya saja, fase pemangkasan ini berlangsung dari otak bagian belakang dahulu, baru terakhir ke otak bagian depan. Sementara, bagian prefrontal cortex yang mengatur kemampuan otak menganalisa konsekuensi dari setiap tindakan, berada di otak bagian depan yang paling akhir matangnya. Selama proses menuju matang, maka otak remaja bergantung pada Amygdala  dimana ia dipercayai merupakan bagian otak yang berperan dalam melakukan pengolahan dan ingatan terhadap reaksi emosi, dorongan impuls, agresi, untuk membuat keputusan dan menyelesaikan masalah. Itu sebabnya remaja akan cenderung untuk membantah dan mendebat, karena mereka masih meraba-raba dan belajar konsekuensi dari setiap tindakannya. Faktor kedua menurut Pickhardt, remaja memiliki energi untuk berdebat besar sekali sehingga sering orang tua kewalahan menghadapinya. Sehingga, orang tua seakan menjadi lawan tanding bagi mereka dalam berdebat. Namun, tidak semua orang tua sanggup menghadapi pertarungan debat setiap saat. Bayangkan saja bila orang tua bekerja seharian, pulang dalam kondisi capai dan stress berdebat di kantor, masih tetap harus menghadapi remaja yang mengajak berdebat di rumah. Tentu reaksi yang timbul adalah marah dan akhirnya saling menyakiti satu sama lain. Remaja pun senang sekali memancing perdebatan hanya untuk menantang otoritas serta ingin tahu apa reaksi dari orang tua. Dari generasi Galih dan Ratna, Si Boy, Rangga, dan Dilan, remaja memiliki pola pikir yang sama. Bahwa dirinya adalah pusat alam semesta yang benar dan setiap orang harus memusatkan perhatian padanya. Sehingga, tidak mudah bagi mereka untuk menerima pendapat orang lain. Hal ini bukan karena pola asuhan yang salah, namun memang bagian dari proses perkembangan remaja. Akibatnya, mereka tidak paham bahwa perkataan mereka bisa menyakitkan hati orang lain, perbuatan mereka bisa membuat orang lain dendam pada mereka. Faktor terakhir yang membuat remaja suka mendebat dan membantah untuk menutupi rasa kegamangan atas ketidakpastian menghadapi tantangan yang mereka hadapi. Menghadapi tanggung jawab dan tantangan hidup bukan hal yang mudah bagi remaja. Mereka menghadapi berbagai perlakuan dari teman, guru, dan orang-orang sekelilingnya. Kegelisahan yang menguasai otak remaja ini membuat mereka menjadi terlihat labil dan mengalami turbulensi emosi yang luar biasa. Jadi,  jangan lihat perdebatan sebagai permasalahan yang buruk, namun lihat sebagai cara untuk menyambung komunikasi hingga bisa lebih dekat dengan remaja. Tulisan ini ditulis oleh Salah satu guru Lazuardi Al-falah Ibu Febriandrini Kumala dan  pernah dimuat di Bernas.id dengan judul “Ternyata Ini Alasan Kenapa Remaja Suka Berdebat dan Membantah Orang Tua” #toleransi #toleransianak  #remaja #perdebatanremaja #pertumbuhanremaja #sekolahislam #sekolahislamdepok #sekolahjawabarat  #islamicjuniorhighschool #globalislamicschool #sekolahkompeten #sekolahbilingual #sekolahasik #sekolahbagus #sekolahtoleransi #sekolahberkarakter #kelasinklusi  #kelasabk #smpLazuadiaalfalah #LazuardiGIS #smpislam #smpsislamterpadu

You may also like

Limbah Kertas Cuma Bukan Barang Terbuang Jika Dikreasikan Mempunyai Nilai Jual Tinggi Lho!
INTERNATIONAL WOMEN’S DAY, MENGENAL SOSOK LEADER YANG SMART
Lestarikan Permainan Tradisional

selvi

Leave a Reply